Perkuat Mitigasi, Baret ICMI Dorong Pembentukan Crisis Center Bencana Aceh Melalui Kolaborasi dengan BRIN
Dipublikasikan 04 Feb 2026
|
Diperbarui 2 bulan yang lalu
JAKARTA – Badan Reaksi Cepat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (Baret ICMI) melakukan langkah strategis dalam upaya penguatan mitigasi bencana di Indonesia. Pengurus pusat Baret ICMI menemui Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., guna membahas inisiatif pendirian Crisis Center Bencana Aceh.
Pertemuan penting ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum DPP Baret ICMI, Lili Erawati, serta Ketua Kelompok Kerja (Pokja), Zam Zam Mubarak. Fokus utama diskusi ini adalah membangun sistem penanganan bencana yang lebih modern, cepat, dan berbasis data di wilayah Serambi Mekkah.
Urgensi Pendekatan Teknokratis
Menurut Ketua Pokja Baret ICMI, Zam Zam Mubarak, kompleksitas bencana di Aceh memerlukan sinergi yang tidak lagi bisa dilakukan secara sektoral. Ia menekankan pentingnya sentuhan teknologi dan ilmu pengetahuan dalam setiap tahap penanganan.
“Penanganan bencana Aceh akan lebih mudah teratasi bila ada kolaborasi semua pihak dan pendekatan teknokratis,” ujar Zam Zam dalam pertemuan tersebut.
Menjadi Pusat Data dan Koordinasi
Baret ICMI berharap Crisis Center ini nantinya tidak sekadar menjadi kantor administratif, melainkan pusat koordinasi dan analisis data (data center). Tujuannya agar setiap respons yang diambil di lapangan didasarkan pada perhitungan yang akurat, sehingga penanganan bencana menjadi lebih efektif dan tepat sasaran.
Langkah ini dinilai krusial mengingat Aceh memiliki sejarah panjang bencana alam dan memerlukan tingkat kesiapsiagaan yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya.
Waspada Erupsi Gunung Burnitelong
Urgensi pendirian pusat krisis ini semakin mendesak mengingat kondisi terkini di wilayah Tengah Aceh. Saat ini, masyarakat setempat tengah berada dalam kondisi siaga menghadapi potensi erupsi Gunung Berapi Burnitelong.
Merespons situasi tersebut, Baret ICMI secara resmi meminta pemerintah pusat untuk segera turun tangan memperkuat koordinasi nasional. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan lembaga riset seperti BRIN diharapkan dapat meminimalisir risiko dampak bencana yang mungkin terjadi di masa depan.